(Tidak) Memaksakan Kehendak

Mukjizat hanya bisa terjadi pada orang yang mempercayai Yesus secara tulus.

0 10

Katolikana.com —  Para Ibu dan Bapak serta Saudari dan Saudara yang baik, selamat sore. Semoga Anda beserta keluarga, sanak-saudara, sahabat dan teman dalam keadaan baik. Selamat menikmati akhir pekan untuk sejenak beristirahat dan mencecap kembali semua rahmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kita selama sepekan yang lalu.

Besok kita akan merayakan Hari Minggu Biasa ke-14 Tahun B dalam kalender liturgi. Bacaan Injil (Mrk 6:1-6) yang akan kita dengarkan dalam Perayaan Ekaristi berkisah tentang Yesus yang “tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun” (ay. 5a) di kota asal-Nya sendiri, Nazaret.

Apa makna kisah ini bagi kehidupan kita sekarang? Marilah kita renungkan bersama dengan memperhatikan beberapa catatan berikut.

Pertama, di Nazaret pengajaran Yesus memang dikagumi dan kabar mengenai mukjizat-mukjizat-Nya menjadi bahan pembicaraan (ay. 2). Tetapi orang-orang itu tidak bisa menerima bahwa Dia itu cuma salah seorang dari antara mereka sendiri. Mereka sudah mengenal latar belakang pekerjaan-Nya dan keluarga-Nya. Tak ada yang baru bagi mereka! (ay. 3a dan 3b). Akibatnya, mereka kecewa dan menolak Dia (ay. 3c).

Kedua, “saudara-saudara” Yesus (ay. 3b) dalam Alkitab bukanlah saudara kandung, melainkan kerabat dekat Yesus, seperti sepupu dan misan.

Ketiga, “Ia ini tukang kayu” (ay. 3a). “Tukang kayu” (Bahasa Yunani: “tektōn”) tidak selalu menunjuk pada tukang mebel dan pengrajin kecil, tetapi bisa juga dipakai bagi “ahli teknik perkayuan” atau bahkan “arsitek bangunan kayu.” Kemungkinan besar, keluarga Yesus bukanlah pengrajin kecil, melainkan arsitek bangunan (dari) kayu.

Keempat, tetapi masalahnya bukan “status sosial” yang dimiliki oleh Yesus, melainkan cara berpikir orang-orang Nazaret yang tidak setuju dengan langkah kehidupan yang diambil oleh Yesus. Mereka berpikir: “Bukankah Yesus ini sudah punya kedudukan mapan – sebagai ahli bangunan kayu – mengapa sekarang malah menjadi guru (agama) keliling?”

Kelima, (lanjutan dari catatan keempat) mereka menginginkan agar Yesus yang mereka kenal itu kini tampil sebagai Mesias menurut bayangan dan harapan politik orang waktu itu. Orang-orang Nazaret waktu itu mulai melihat tindakan luar biasa (mukjizat) yang dilakukan Yesus bukan sebagai tanda kebenaran pewartaan-Nya, melainkan sebagai ilmu dan kekuatan yang semestinya dimiliki pemimpin yang mereka idam-idamkan.

Keenam, mereka menginginkan agar Yesus tampil sebagai Mesias politik, yang dengan kekuatan luar biasa akan memukul kekuatan militer Romawi dan kelompok-kelompok lain. Maka nanti ada (Yakobus dan Yohanes) yang menginginkan kedudukan di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya (Mrk 10:37). Tetapi itu bukan ke-Mesias-an yang dihayati-Nya.

Ketujuh, namun Yesus tidak mau mengorbankan pengutusan yang Ia terima dari Bapa demi memuaskan angan-angan mereka. Yesus tidak mau dijadikan pemimpin gerakan yang punya ilmu gaib. Hal itu bakal mengaburkan yang dibawakan-Nya dari atas sana (yakni Kerajaan Allah). Karenanya, orang-orang sekotanya “kecewa dan menolak Dia” (ay. 3b).

Kedelapan, akibatnya, Yesus tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di Nazaret, Ia hanya dapat menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan di atas mereka (ay. 5). Mukjizat hanya bisa terjadi pada orang yang mempercayai Yesus secara tulus; percaya pada yang dikerjakan dan dikatakan Yesus mengenai diri-Nya sendiri. Dengan kata lain, mukjizat adalah hasil dari jawaban iman terhadap Yesus. Jawaban iman inilah yang tidak dimiliki oleh orang-orang Nazaret.

Kesembilan, orang-orang Nazaret itu kehilangan kesempatan melihat siapa sebenarnya Yesus karena mereka memenjarakan diri dengan “pemikiran-pemikiran” mereka sendiri: mereka merasa sudah tahu betul siapa Yesus, sudah tahu Mesias (versi mereka), dan mereka juga bersikeras bahwa tugas Mesias adalah membangun kembali kejayaan umat di mata orang lain. Mereka gagal melihat siapa sebenarnya Yesus (sebagai utusan Allah) dan apa yang dibawakan-Nya (kemanusiaan baru).

Kesepuluh, “kemanusiaan baru” adalah manusia yang sungguh menjadi citra Allah; manusia yang memiliki daya hidup, yang arah hidupnya tertuju kepada Allah, yang membuat bumi sebagai tempat tinggal yang nyaman untuk dihuni bersama, yang membantu sesamanya untuk dapat hidup bermartabat dan bahagia di dunia ini juga.

Dengan merenungkan Injil ini kita diajak untuk merefleksikan praktik iman kita. Apakah kita sering terkurung oleh pemikiran kita sendiri tentang Allah, tentang Yesus, tentang doa, tentang peribadatan? Apakah kita bahkan memaksaksakan kehendak kita sendiri terhadap Allah? Kita diundang untuk menyediakan “ruang batin” agar Allah dapat hadir dan memperluas cakrawala hidup serta iman kita, sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam mewujudkan “kemanusiaan baru.”

Teriring salam dan doa.

 

Penulis: Rm. Ignatius Loyola Madya Utama, SJ. Dosen Seminari Tinggi Santo Petrus, Sinaksak—Pematang Siantar, dan pendiri Gerakan Solidaritas untuk Anak-anak Miskin.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.