Jurang Antara Kata dan Perbuatan

0 218

Yesaya 1:10.16-20 dan Matius 23:1-12

Katolikana.com – Mengajarkan hal-hal yang baik jauh lebih mudah daripada mewujudkannya. Dalam lingkup agama pun, itu merupakan persoalan klasik yang sudah berabad-abad umurnya. Jurang antara kata dan perbuatan. Itulah yang kita baca dalam liturgi sabda hari ini.

Kitab Yesaya amat keras mengkritik para pemimpin agama dan rakyat biasa yang melakukan kejahatan. Sang nabi berseru, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat, belajarlah berbuat baik. Usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam;
belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda” (Yesaya 1:16).

Menegakkan keadilan
Ajaran yang baik mesti dipraktikkan untuk menegakkan keadilan dan membela yang lemah.

Ratusan tahun kemudian penyakit mereka belum sembuh. Dalam kritik-Nya terhadap kaum Farisi dan ahli Taurat, Yesus menegaskan agar orang mendengarkan ajaran mereka, tetapi tidak meneladan cara hidup mereka. Mengapa? Karena mereka tidak melakukan yang diajarkan. Ada jurang antara kata dan perbuatan.

Lebih dari itu, mereka itu menyukai hal-hal lahiriah agama. Misalnya, mengenakan jumbai yang panjang, suka pamer. Artinya, menghayati agama dengan motivasi supaya dilihat orang dan suka duduk di tempat terpenting dalam perjamuan dan rumah ibadat. Menganggap dirinya lebih penting dari Tuhan.

Pengajaran yang mendasar
Kemudian, Yesus mengajarkan dua hal mendasar, yakni bahwa mereka yang terbesar itu mesti menjadi pelayan. Mereka yang meninggikan diri akan direndahkan. Sedang yang meninggikan diri akan direndahkan (Matius 9:11-12). Artinya, kedudukan dan jabatan itu sarana untuk melayani; bukan kursi nikmat untuk diri sendiri.

Kini, banyak kritik terbuka terhadap para pemimpin agama yang mengajarkan hal baik dan benar, namun tidak berusaha mewujudkannya. Mereka bahkan menyalahgunakan kedudukan dalam agama untuk kepentingan duniawi bagi diri sendiri.

Risiko dan konsekuensi pelanggaran dan perilaku jahat seperti itu jelas, karena Tuhan yang mengucapkan. “Jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang” (Yesaya 1:20). Artinya, mati.

Tanpa integritas

Nabi Yesaya dan Yesus mengecam para pemimpin yang jahat dan tanpa integritas. Mereka tidak mengajarkan supaya mereka meninggalkan agama dan lembaganya gara-gara perilaku jahat sebagian pemimpinnya. Mereka mesti tetap menghayati iman dan beragama tanpa meneladan pemimpin yang hidupnya menunjukkan jurang antara kata dan perbuatan.

Selasa, 3 Maret 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.