Dari Meja Rohani ke Hidup Sehari-hari

0 22

Kisah Para Rasul 6:1-7; Yohanes 6:16-21

Katolikana.com – Karl Marx, pencetus ideologi komunis, memandang agama secara negatif. Dia berkata bahwa agama itu candu bagi masyarakat. Maksudnya, agama itu sering dipakai untuk meninabobokan orang miskin dan tersingkir agar tidak protes, karena bagi mereka kelak tersedia surga. Agama itu mengasingkan manusia dari realita hidup sehari-hari.

Benarkah demikian?

Sabda Tuhan hari ini memberikan jawaban dan sekaligus mematahkan argumen Karl Marx. Mengapa demikian? Mari kita kupas dan renungkan.

Kedua belas rasul prihatin dengan situasi dan kondisi umat. Karena mereka fokus melayani firman, pelayanan sehari-hari bagi para janda terabaikan (Kisah 6:1).

Janda adalah perwujudan konkret orang miskin yang membutuhkan penolong. Karena itu, mereka memilih tujuh orang yang baik, penuh hikmat dan Roh Kudus untuk membantu melayani para janda itu (Kisah 6:3). Dengan demikian, Gereja dapat melayani keduanya.

Injil Yohanes mewartakan tentang Yesus yang pergi menyendiri setelah membuat mukjizat, menggandakan roti. Tatkala para murid menyeberang danau dan perahunya dihantam gelombang, Yesus datang.

Para murid ketakutan tatkala melihat Yesus berjalan di atas air dan mengira mereka melihat hantu. Namun Yesus bersabda, “Ini Aku, jangan takut!” (Yohanes 6:20). Artinya, Yesus berada bersama para murid yang berada dalam kesulitan.
Dua perikop yang kita baca hari ini menegaskan bahwa Tuhan hadir dalam seluruh kehidupan umat-Nya, baik dalam ibadat (agama) maupun dalam realitas hidup sehari-hari.

Agama tidak bisa dipisahkan dari kesulitan hidup
Jadi, agama itu tidak bisa dipisahkan dari perjuangan dan kesulitan hidup sehari-hari.

Pendapat Karl Marx bahwa agama itu tempat orang melarikan diri dari kenyataan sama sekali salah.

Hingga kini Gereja melakukan pelayanan yang lengkap lewat dua cara. Pertama, Gereja melayani jemaat dalam ibadat dan hidup keagamaan.

Dengan cara ini, Gereja menyucikan jemaat dan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.

Kedua, Gereja juga terlibat dalam masyarakat dengan mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah sosial.

Gereja mempunyai pelbagai lembaga pendidikan (sekolah), kesehatan (rumah sakit), ekonomi (koperasi atau “credit union”).

Agama bukan candu
Gereja melayani umat di meja rohani (sabda dan Ekaristi), sekaligus turun ke jalan untuk melayani masyarakat.

Ini contoh nyata bahwa agama bukan candu masyarakat.

Sabtu, 18 April 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.