Panggilan Orang Muda Katolik Suarakan Anak-anak yang Menderita

0 27

Maria Tivani Aprilia, Mahasiswa STKIP Widya Yuwana, Madiun

Katolikana.com – Beberapa waktu lalu, Indonesia digegerkan oleh sebuah berita yang menyayat hati. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri. Penyebabnya terdengar begitu sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya itulah peristiwa ini terasa sangat tragis. Ia meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10.000. Namun sang ibu, yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, tidak mampu memberikannya. Ia adalah seorang janda yang harus menafkahi lima orang anak.

Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin sangat kecil. Tetapi bagi keluarga tersebut, Rp10.000 adalah sesuatu yang tidak mudah didapatkan. Korban bahkan tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana. Tidak jauh dari pondok itulah, di sebuah dahan pohon cengkeh, anak itu mengakhiri hidupnya.

Kabar ini membuat banyak orang terdiam. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa seorang anak kecil, yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang, memilih jalan kematian karena persoalan yang begitu mendasar: pendidikan dan kemiskinan.

Peristiwa ini bukan sekadar berita duka. Ini adalah potret nyata wajah Indonesia hari-hari ini. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang harus disalahkan, melainkan apa yang harus kita renungkan. Bagi kaum muda Katolik Indonesia, peristiwa seperti ini seharusnya menjadi momen refleksi yang mendalam. Sebab kasus ini bukan hanya tentang kemiskinan, melainkan tentang anak muda, tentang masa depan bangsa, dan tentang tanggung jawab kita bersama.

Dalam anjuran apostolik Christus Vivit, Paus Fransiskus menegaskan bahwa kaum muda bukan hanya masa depan Gereja dan bangsa, tetapi juga masa kini. Artinya, kaum muda tidak boleh hanya menunggu perubahan terjadi, melainkan dipanggil untuk terlibat dalam menghadirkan perubahan itu sekarang juga. Yesus sendiri dalam Injil selalu menempatkan anak-anak dan kaum muda dalam posisi yang istimewa. Ia tidak hanya menerima mereka, tetapi juga menjadikan mereka tanda kehadiran Kerajaan Allah.

Dalam Injil Markus 10:14, Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Sabda ini menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan, anak kecil bukanlah pribadi yang kecil nilainya. Mereka justru menjadi gambaran kemurnian, harapan, dan masa depan. Bahkan Yesus dengan tegas memperingatkan agar tidak seorang pun menjadi penyebab jatuhnya anak kecil.

Dalam Injil Matius 18:6 dikatakan, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”

Sabda ini sangat keras, tetapi justru menunjukkan betapa besar perhatian Tuhan terhadap anak-anak. Karena itu, ketika ada seorang anak yang kehilangan harapan sampai memilih mengakhiri hidupnya, kita tidak bisa menganggapnya sebagai peristiwa biasa. Ini adalah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan bersama kita sebagai bangsa.

Sebagai orang muda Katolik di Indonesia, panggilan ini tidak dapat dipisahkan dari identitas kita sebagai warga negara yang berlandaskan Pancasila. Pancasila bukan hanya dasar negara yang dihafalkan di sekolah, melainkan nilai hidup yang seharusnya menjiwai setiap kebijakan dan setiap tindakan dalam kehidupan berbangsa. Keadilan sosial, kemanusiaan, dan persatuan bukan sekadar kata-kata dalam teks, tetapi harus nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam terang Pancasila, peristiwa di Ngada menjadi pertanyaan yang serius. Apakah nilai keadilan sosial sudah sungguh dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia? Apakah setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak? Jika masih ada anak yang harus mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku, maka kita harus jujur mengatakan bahwa cita-cita Pancasila belum sepenuhnya terwujud.

Pendidikan adalah salah satu penentu masa depan bangsa. Dari pendidikan lahir generasi yang mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik. Namun kenyataannya, biaya pendidikan di beberapa wilayah masih menjadi beban berat bagi keluarga kecil. Program pendidikan gratis memang ada, tetapi belum sepenuhnya merata. Masih ada anak-anak yang harus berjuang sendiri menghadapi keterbatasan, bahkan sampai kehilangan harapan.

Di sinilah kaum muda Katolik dihadapkan pada pilihan, diam atau bersuara. Diam berarti membiarkan keadaan berjalan apa adanya. Bersimpati, tetapi tidak bertindak. Sedih, tetapi tidak melakukan apa-apa. Sementara bersuara berarti berani peduli, berani terlibat, dan berani memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, meskipun dimulai dari hal yang kecil.

Menjadi Katolik berarti mengikuti Kristus yang berpihak pada yang kecil, lemah, dan tersingkir. Menjadi Pancasialis berarti memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketika dua identitas ini dipadukan, maka lahirlah panggilan untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Kaum muda tidak selalu harus berbicara di mimbar atau di media. Bersikap peduli di lingkungan sendiri, membantu teman yang kesulitan, terlibat dalam kegiatan sosial, atau menyuarakan keadilan dengan cara yang bijak, semuanya adalah bentuk keberanian untuk tidak diam.

Peristiwa di Ngada seharusnya menggugah hati kita semua. Jangan sampai kita menjadi generasi yang terbiasa melihat penderitaan, tetapi tidak lagi tergerak untuk bertindak.

Leave A Reply

Your email address will not be published.