Kesaksian Rizka Moeslichan, Penyintas Covid-19: ‘Sang Malaikat itu Perawat’

Kisah perjuangan penyintas Covid-19

0 119

Katolikana.com – Sejumlah orang menyeka air matanya saat Rizka Moeslichan, penyintas Covid-19, menuturkan kesaksiannya dalam bincang daring Gerakan Pakai Masker pada Jumat (11/9/2020). Rizka menuturkan perjuangannya melawan Covid-19 kepada sekitar 200 peserta, bergulat dengan bayang-bayang ketakutan dan kematian.

Duka ditinggal ayah kandung belum juga usai, kini kamar isolasi yang ditempatinya seolah mengantarkan pada tempat yang sama: kematian.

Pada Juli 2020, ia berjuang sendiri dalam ruang isolasi sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Dalam perawatan itu, ia merasa mencekam. TV di ruang itu pun terus menyiarkan berita tentang kematian dan korban Covid-19.

Menggugat Tuhan

Infus dan obat yang bermacam-macam digunakan bagai uji coba dokter pada tubuhnya. “Obat selalu diganti. Dampak Covid-19 ke pasien ternyata berbeda-beda, pengobatannya pun berbeda. Seperti find tunning saja, dikasih obat ini dampaknya apa,” ujar Riska.

Pada titik ini, dia merasa tidak nyaman dan terancam. “Ini ujungnya hidup atau mati. Ngeri banget. Saya mulai depresi, nangis terus, teriak-teriak,” tambahnya. Puncaknya ia pun menutup komunikasi dari dunia luar. Perhatian teman-teman menjadi sesuatu yang sangat mengganggu baginya. Rizka hanya ingin kontak dengan keluarga saja.

“Saya menutup diri, bahkan tak mau dihubungi. Saya ketakutan. Takut mati. Hanya mau sama keluarga. Terancam banget rasanya di ruang isolasi itu. Terancam kematian. Jalannya seakan ke sana,” tutur Rizka.

Pada titik depresi inilah, ia menggugat Tuhan. Meninggalkan ngaji dan zikir.

Kemarahannya pada Tuhan memuncak. Zikir tak bisa menolongnya, malah ia hanya mengingatkan rapalan doa yang ia ucapkan pada ayahnya menjelang kematiannya. Nangis dan teriaklah yang bisa Rizka lakukan.

Malaikat itu Perawat

“Sampai pada suatu hari saya letih sekali. Ada suster berbadan besar yang memijit saya. baik banget dia. Ngobrol dari hati ke hati. Dia panggil saya bebeb karena saya nangis terus. Umurnya masih separuh saya. Suster itu baru sepuluh bulan melahirkan. Dan dia tetap bertugas. Luar biasa. Untuk mengurus pasien Covid seperti saya,” paparnya.

Hatinya tersentuh. Suster itu rela meninggalkan bayi 10 bulan untuk berhadapan dengan maut karena sangat dekat dengan virus yang sangat mengancam. Padahal anak sepuluh bulan tersebut sudah diidamkan selama sebelas tahun lamanya. Obrolan ringan dengan perawat-perawat yang ada jadi penyemangatnya. Mereka malaikat sejati yang dikirim Tuhan buatnya.

Obrolan-obrolan ringan ini mengetuk hatinya. Dia mulai menyesali sikapnya yang tak bersyukur dengan kondisinya yang lebih baik. Perjumpaan dengan beberapa perawat membuatnya bangkit lagi. Nafsu makannya muncul lagi. Dia mulai salat dan zikir lagi.

“Saat itu menjadi titik balik. Saya mendekatkan diri lagi ke Tuhan. Penyembuhan saya jadi makin cepat,” tambahnya. Proses penyembuhannya pun lebih cepat.

Rizka sudah sembuh saat ini. Tetapi rasa ringkih masih ia rasakan. Bekerja beberapa hari membuatnya letih. “Saya harus tidur siang tadi, agar malam ini bisa lebih fresh untuk berbagi. Proses pemulihan ini bisa sampai 6 bulan ke depan,” lanjutnya.

Covid-19 yang menyerangnya juga membuat dia kehilangan ingatan. Brain fog, begitu istilah medisnya. Ia pun kini sedang berjuang untuk memulihkan segalanya. “Pakai masker, itu pelajaran yang sangat penting. Anak dan suami saya memakai masker, dan itu membuat mereka tidak tertular,” begitu ia menyampaikan pesan.

Rizka adalah satu dari sekian ratus ribu penderita Covid-19. Ia bersyukur bisa lepas dari kematian. Kini dia berusaha membalas kebaikan Tuhan dengan membagikan kisahnya dengan sebanyak-banyaknya orang agar tetap waspada dan tak meremehkan virus yang sangat berbahaya ini.

Rizka kini aktif mengajak kita untuk selalu memakai masker. Ini adalah cara yang paling mudah untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. Kita tentu tak ingin frustasi, apalagi sampai marah pada sang Ilahi..

Ya, kita pun seringkali marah pada Tuhan. Seringkali kita terlalu lemah untuk bergulat dengan rasa frustrasi dan ketidakmampuan mengatasi masalah.

Tragedi, bencana dan sakit adalah hal yang tidak terelakkan dalam perjalanan hidup. Ini menunjukkan bahwa bukan kita yang bisa mengendalikan hidup, segala sesuatunya atas izin Allah.

Editor: Basilius

Sebelas tahun menjadi wartawan dan 13 tahun menjadi Public Relations di perusahaan. Bergiat dengan Yayasan Syair kehidupan untuk mendampingi anak-anak dengan HIV, dan sosialisasi kebaya untuk pakaian sehari-hari di Komunitas Kebaya Kopi dan Buku. Alumni The Haggai Leadership Experience. Ia juga aktif di Badan Pengurus Pusat Perhumas Indonesia. Menulis untuk tetap memelihara ingatan perjalanan kehidupan. Dan bergembira belajar bahasa Indonesia secara daring setiap Senin dan Kamis di Facebook.

Leave A Reply

Your email address will not be published.