Pancasila Harus Jadi Tolok Ukur Utama Berperilaku di Dunia Digital

Survei Microsoft: Netizen Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

0 457

Katolikana.com—Internet telah dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Kondisi ini menyebabkan beberapa perubahan yang terjadi di masyarakat seperti lahirnya banyak platform baru, adanya perilaku komunikasi baru, dan munculnya pelayanan publik digital.

Sayangnya, warganet kurang mampu memanfaatkan perkembangan media ini dengan bijak.


Tidak Sopan Se-Asia

Hal ini disampaikan oleh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta Olivia Lewi Pramesti dalam webinar “Kreatif Lestarikan Nilai-Nilai Pancasila di Ruang Digital”.

Webinar ini diselenggarakan oleh Siberkreasi bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rabu (27/10/2021). Webinar ini diadakan dalam rangka Gerakan Nasional Literasi Digital 2021.

Olivia Lewi Pramesti. Foto: Istimewa

Olivia mencontohkan, survei dari Microsoft yang menunjukkan bahwa netizen kita menjadi yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

“Ini menjadi keprihatinan besar bagi kita,” tegasnya.

Kunci untuk mengatasi masalah ini menurutnya adalah dengan literasi digital. Literasi digital adalah bagaimana kita berpikir kritis ketika berinteraksi di dunia digital.

“Selain itu, Pancasila juga harus menjadi tolok ukur utama kita untuk berperilaku di dunia digital,” jelas dosen yang juga tergabung di Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI) ini.

Lewi merangkum menjadi lima nilai Pancasila yang dapat kita terapkan di dunia digital. Lima nilai ini meliputi cinta kasih, setara, harmoni, demokratis, dan gotong royong.

Penerapan nilai-nilai tersebut dalam aktivitas digital kita sehari-hari akan menghasilkan budaya digital atau digital culture.

Olivia Lewi menjelaskan budaya digital sebagai kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan serta Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika beraktivitas di dunia digital, kita punya hak dan kewajiban untuk melakukan aktivitas bermedia berlandaskan Pancasila,” jelasnya.

Ia juga menerangkan beberapa dampak buruk jika kita tidak menerapkan nilai Pancasila dalam aktivitas digital seperti berpotensi melakukan ujaran kebencian dan provokasi, tidak bisa membedakan ruang publik dan privasi, serta tidak menghargai pendapat orang lain.

“Selain itu, kita menjadi mudah terjebak echo chamber dan memercayai berita-berita hoaks,” jelasnya.

Di bagian akhir, Olivia Lewi mengajak kita untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila ini secara saksama. Menurutnya, ada banyak tindakan konkret yang bisa kita lakukan seperti membuat konten video soal kebudayaan masing-masing, kritis sebelum mengunggah konten, berpartisipasi aktif dalam komunitas digital yang bernilai positif, dan menghormati pendapat orang lain.

“Dengan menerapkan tindakan-tindakan tersebut, kita turut andil dalam membangun budaya digital yang positif,” pungkasnya.

Bijak Bermedia Digital

Arya Purnama. Foto: Istimewa

Key Opinion Leader dan Putra Pariwisata Nusantara 2018 Arya Purnama mengamini apa yang dijelaskan oleh Olivia Lewi. Menurutnya, kemudahan akses informasi yang kita dapatkan sekarang tidak bisa dilepaskan dari dampak negatif yang menyertai.

“Seringkali kita sulit menyaring informasi dan budaya yang masuk ke masyarakat kita, itulah mengapa kita butuh menguatkan nilai-nilai Pancasila dalam menggunakan media digital,” jelasnya.

Ia berharap, masyarakat Indonesia tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga dapat menggunakannya dengan baik dan benar.

“Jangan terlalu lama berkutat di dunia digital, atur penggunaannya dengan bijak,” pesannya.

 Pembicara lain yang hadir adalah penulis dan jurnalis  Didin Sutandi, co-founder Localin Muhammad Bima Januri, ST, M.Kom, dan Dosen Universitas Serang Raya Dr. Delly Maulana, MPA.**

 Kontributor: Daniel Kalis, Marsha Bremanda, Alicia Yolanda, Jennifer, Given Erly (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.