Skandal Seksual Imam dan Aroma Politik Vatikan

Bagaimana memahami dan merespon skandal seksual para Imam Gereja Katolik?

0 476

Bagi Gereja Katolik, seksualitas manusia merupakan sebuah perkara serius. Gereja Katolik menghadapi banyak peristiwa yang terkait langsung dengan seksualitas manusia. Ada skandal seksual yang melibatkan beberapa imam Katolik di berbagai belahan dunia. Ada pula pula perdebatan tentang penggunaan kontrasepsi buatan untuk mengatasi masalah HIV/AIDS. Ada juga perdebatan mengenai hak-hak gay-lesbian dan pernikahan sejenis yang ramai dibicarakan masyarakat dunia.

Di hadapan berbagai peristiwa itu, Gereja Katolik sangat hati-hati dan cenderung lambat merespon. Kehati-hatian dan kelambatan itu, didasarkan pada prinsip bahwa seksualitas tidak sekedar birahi dan alat kelamin. Lebih dalam dari itu, seksualitas terkait erat dengan keberadaan manusia sebagai makhluk seksual sekaligus panggilan bagi setiap orang Katolik untuk mengolah (mamaknai) seksualitasnya. Manusia dengan keseluruhan dirinya juga tidak bisa disempitkan hanya dalam urusan seksualitas.

Sikap hati-hati

Gambaran mengenai kehati-hatian Gereja Katolik merespon perkara seksualitas manusia dan masalah skandal seksual, dapat kita baca dalam Buku-buku Harian Vatikan (Grasindo, 2013) karya jurnalis John Thavis. Dalam buku itu, John Thavis mencatat salah satu persoalan yang direspon oleh Vatikan dengan sikap hati-hati yakni penggunaan kondom, khususnya dalam kasus orang-orang dengan HIV/AIDS.

Selain itu, Vatikan juga hati-hati dan bersikap jernih dalam memandang persoalan gay (homoseksual) dalam kaitannya dengan penerimaan dan pembinaan seseorang sebagai calon imam. Seperti yang dicatat oleh John Thavis, Paus Benedictus XVI pernah melansir sebuah dokumen yang berisi himbauan kepada para formator (pembina) seminari-seminari, agar sungguh-sungguh menyeleksi para calon imam dan memastikan bahwa tidak ada calon yang berkeadaan diri gay yang diterima sebagai seminaris. Dokumen itu menimbulkan diskusi hangat baik di dalam internal Gereja Katolik maupun di luar Gereja Katolik.

Di kemudian hari, Paus Fransiskus, merespon perkara gay dan lesbian itu dengan semangat cinta kasih yang mendalam terhadap mereka yang memiliki kecenderungan seksual gay dan lesbian. Respon Paus Fransiskus tentang hal tersebut tidak saja terkait dengan seleksi seminaris tetapi juga untuk semua orang yang gay dan lesbian. Bagi Paus Fransiskus, mereka adalah anak-anak Allah yang tidak boleh didiskriminasi.

Tidak mendiamkan skandal seksual

Sejak beberapa tahun lalu, beberapa jurnalis melansir hasil liputan mendalam mengenai skandal seks yang lakukan oleh beberapa imam Katolik di berbagai wilayah gerejawi (keuskupan) di berbagai benua. Hasil liputan itu disebar ke berbagai media massa baik cetak maupun elektronik serta digital.

Banyak pihak merespon pemberitaan itu dengan berbagai sudut pandang yang dimiliknya. Namun, ada hal yang jelas, yakni skandal seks beberapa imam itu merupakan sebuah persoalan yang tidak didiamkan oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik tentu tidak diam terhadap masalah itu.

Imam-imam yang terlibat dalam skandal mendapat sanksi tegas dari Gereja Katolik dan mempersilakan negara tempat para imam bermukim, untuk mengadili mereka sesuai dengan hukum negara setempat.

Sudah lama Gereja Katolik merespon skandal seks beberapa imam. Pada 16 Maret 1962, Vatikan mengeluarkan sebuah panduan instruktif untuk menangani masalah skandal seks. Panduan berjudul Instructio de Mondo Procedendi in Causis Sollicitationis ditujukan kepada para uskup dan uskup agung di seluruh dunia. Berdasarkan tahun terbit panduan instruktif tersebut, menunjukkan dua hal. Pertama, skandal seks bukan hal baru dalam Gereja Katolik. Kedua, Gereja Katolik tidak diam terhadap skandal seks. Terlepas dari cara penanganan yang mungkin kurang menunjukkan sikap tegas dan kurang adil, dua hal itu tak terbantahkan.

Dimensi politis seksual

Masalah seksual dan berbagai peristiwa yang terjadi berkaitan dengan hal itu, tidak semata-mata sebagai masalah moral. Gereja Katolik memang merespon hal itu dari sisi moralitas Katolik. Tetapi bersamaan dengan itu, Gereja Katolik juga sungguh paham bahwa perkara seksual manusia juga bersinggungan dengan masalah politik. Vatikan sebagai representasi Gereja Katolik seluruh dunia adalah sebuah negara. Paus dan seluruh kardinal yang menduduki jabatan tertentu dalam Dewan Kepausan, di satu sisi, mereka adalah gembala umat Katolik, di sisi lain mereka juga adalah pejabat politik.

Dengan posisi jabatan yang demikian, segala hal yang dilakukan oleh Vatikan – paus dan dewan kepausan – berdimensi politis. Respon dari pihak-pihak di luar Gereja Katolik pun bersifat politis. Dalam konteks yang demikian, perkara seksual dengan seluruh problem yang melingkupinya, juga merupakan perkara politis juga. Dengan kata lain, Gereja Katolik (Vatikan) berada dalam pusaran masalah seksual yang bersifat politis.

John Thavis menulis posisi Gereja Katolik (Vatikan) dalam pusaran politik yang demikian dalam bukunya Buku-buku Harian Vatikan. Salah satu peristiwa yang menandai posisi Gereja Katolik dalam pusaran politik beraroma seksual adalah ketika pada 2009 terjadi serang-menyerang antara para pejabat Gereja Katolik – baik di Roma maupun di Vatikan – dengan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi.

Sekurang-kurangnya ada tiga konteks yang membingkai masalah seksualitas dalam Gereja Katolik. Pertama, prinsip-prinsip moral seksual yang dianut Gereja Katolik. Kedua, pusaran politik beraroma seksual. Ketiga, status Vatikan sebagai negara. Sebagai lembaga moral, Gereja Katolik merespon masalah seksual berdasarkan prinsip-prinsip moral yang dianutnya. Sebagai sebuah negara, respon Gereja Katolik (Vatikan) terhadap masalah seksual memuat dimensi politis. Tanggapan dari pihak lain pun boleh jadi bersifat politis.

Editor Katolikana.com, esais, dan dosen di Universitas Pelita Harapan, Tangerang

Leave A Reply

Your email address will not be published.