Menjelajahi Gereja di Serambi Mekah

Potret gereja-gereja di Serambi Mekah, Aceh dan kisah dua martir Aceh di zaman kolonial.

0 616

Katolikana.com – Lampu taman yang lindap, angin pantai yang dingin, dan malam yang beranjak larut di Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh, awal Desember 2013. Kopi kami belum habis ketika Baron Ferryson Pandiangan, Pembimbing Masyarakat Katolik Provinsi Aceh, mengajak pulang. “Sudah larut. Besok lagi kita ngobrol,” ia meminta.

Beringsut menuju mobil, Baron merogoh saku celananya. Dua kali suara klik, mesin bergetar halus. Memutar ke arah kota, kami meninggalkan belasan pemancing di bibir tembok pemecah gelombang. Dari kejauhan mereka tersisa bayangan hitam.

“Sekarang aman. Inilah sisi positif tsunami. Orang dari berbagai bangsa datang membantu membuat masyarakat Aceh lebih terbuka,” kata Baron.

Kami terus berkendara ke pusat kota. Jalanan mulai sepi. Lewat depan Masjid Raya Baiturahman. Sekelompok orang sedang mengaji. Di sisi kiri, di seberang jalan, berdiri menyerupai kapal, Museum Tsunami Aceh. Di sampingnya kompleks Persekolahan Budi Dharma milik yayasan Katolik, satu sekolah favorit di Banda Aceh.

“Itu jalan menuju kerkhof, makam Belanda,” Baron menunjuk jalan beraspal yang tak begitu lebar. Letaknya dekat gerbang sekolah.

Penjaga Malam 

Jalan searah. Mobil memutari alun-alun kota. Di ujung lapangan kami berbelok ke kiri. Jalan agak menanjak di jembatan Pante Pirak. Air Krueng (sungai) Aceh melintas di bawah. Warnanya coklat pekat. Tepat di ujung jembatan, di depan Markas Komando Militer (Makodam) Sultan Iskandar Muda, Baron memperlambat laju mobil. Lalu berhenti. Saya turun.

“Sampai besok,” ucapnya.

Ia tancap gas ke utara kota. Masih sekitar tujuh kilometer untuk sampai ke Kompleks Perumahan Samaritan di Mataie, Darul Imarah, Aceh Besar. Baron tinggal di sana, di daerah yang berbukit-bukit.

Tetapi di gerbang Gereja Hati Kudus Banda Aceh dua tentara penjaga malam memelototi saya. Mereka sebenarnya berjaga di pos provost Makodam. Jarak kedua tempat ini hanya lima meter.

“Mau ke mana, Pak?” seseorang bertanya.

Saya mendatangi mereka. Kami bersalaman. Saya bercerita kalau menginap di pastoran.

“Asli mana,Pak?”, tanya lagi.

“Jakarta,” jawab saya.

“Apanya Pastor Herman?” kali ini temannya.

“Kawan sekolah waktu SD,” jawab saya sekenanya. Padahal saya baru tahu nama Pastor Herman (Hermanus Sahar, Pr) ketika akan naik pesawat dari Medan ke Banda Aceh.

Saya menawarkan rokok. Masing-masing mencabut sebatang. Kretek tanpa filter.

“Sekarang Aceh aman, Pak,” kata yang badannya lebih tinggi, Saksono, orang Magetan.

“Mau pulang jam berapa saja tidak jadi soal. Kalau dulu salah-salah kita jadi sasaran peluru GAM,” terang dia.

“Saya tak menyangka ada gereja di sini,” cetus saya.

“Sama, Pak. Waktu pertama kali ke Aceh saya juga berpikir tidak ada satu pun gereja di sini. Ternyata ada pula HKBP,” kata tentara bertubuh kecil berkulit putih. Pada plakat namanya tertulis M. Sitorus.

Pokoknya, kalau tak piket hari Sabtu malam, kata dia, Minggu pagi pasti beribadat ke HKBP Aceh.

Gereja hati Kudus berada di Jl. Ahmad Yani No. 2. Di kompleksnya ada sekolah TK dan deretan kantor gereja. Posisi gereja berada di tengah huruf “U”. Sekelilingnya asrama Makodam dari satu sisi ke sisi yang lain.

“Tanah asrama Kodam milik gereja. Tetapi kemudian dilakukan tukar guling. Gereja mendapat tanah di Blang Oi tempat sekolah Budi Dharma berdiri,” kata Romo Hermanus Sahar,Pr, pastor Paroki Hati Kudus. Selain menjadi pastor paroki, ia juga memimpin Yayasan Budi Dharma yang menyelenggarakan pendidikan dari tingkat TK hingga SMA.

Paroki Hati Kudus meliputi daerah Meulaboh, Takengon, Lhokseumawe serta Pulau Sabang. Jumlah umat kurang lebih seribu jiwa.

“Kebanyakan orang Tionghoa dan Batak, lalu Jawa dan Flores. Orang Aceh yang jadi Katolik ada, yang menikah dengan tentara. Tetapi mereka pasti tinggal di luar Aceh,” ujarnya.

 

Gereja HKBP Kota Banda Aceh. Foto: Alex Japalatu

 

PUSAT KOTA Banda Aceh bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Gereja Katolik, jaraknya sekitar satu kilometer. Tengah kota Aceh ditandai oleh Tugu Simpang Lim, tingginya sekitar sepuluh meter. Saat Tsunami Aceh pada 2004, Tugu Simpang Lima banyak menjadi perhatian media karena banyak korban diletekkan di sekitar tugu tersebut.

Untuk menghormati dan mengenang peristiwa tsunami, didirikan Museum Tsunami Aceh, Kapal Pembangkit Listrik Apung di Gampong Punge Blang Cut dan kapal kayu yang hinggap di atas rumah di Gampong Lampulo. Tiga tempat ini sekarang ramai dikunjungi, untuk mengenang jejak Aceh saat diguncang gempa dan tsunami hebat.

Pasar Peunayong terletak di sebelah kiri. Ini pasar terbesar di Banda Aceh. Tetapi kalau berjalan lurus, kita masuk Jalan Panglima Polem. Berderet-deret toko di sini. Rata-rata menjual peralatan elektronik dan pakaian. Tampak pula beberapa bank swasta. Namun yang paling mencolok adalah Vihara Dharma Bakti di Jl. Panglima Polem 70. Atap dan pagar bangunan ini dicat merah terang. Beberapa lampion tergantung di depan. Di sinilah tempat beribadat masyarakat Buddha Banda Aceh.

Saya belok kanan. Tepat di trafic light. Menuju Jalan Pocut Baren. Segera tampak GPIB Banda Aceh. Gereja ini berbatasan tembok dengan Gereja Metodist Indonesia (GMI) Banda Aceh. Berjarak lima ratus meter dari keduanya berdiri HKBP Banda Aceh.

Gedung GPIB adalah bangunan lama, berdiri sekitar tahun 1930. Hanya tembok bagian depan dan dua menara di sisinya yang tampak baru. Diaken Roby Jexon Tefu, mengatakan, jemaat yang tercatat sekitar 118 orang. “Hampir semuanya pendatang dari luar baik yang menetap di sini seperti PNS dan anggota TNI Polri. Kalau perayaan Natal semua jemaat hadir sehingga gereja penuh,” jelasnya.

 

Gereja Methodist Banda Aceh. Foto: Alex Japalatu

 

Gereja Metodist Banda Aceh sudah berusia setengah abad lebih. Secara resmi berdiri pada 1957. Meskipun jemaat sudah mulai melakukan ibadat-ibadat sejak 1938. Mula-mula berupa gereja dari papan di dekat Pasar Peunayong. Tetapi saat Jepang masuk pada 1942, gereja ini dipakai sebagai gudang. Jemaat tercerai-berai. Barulah ketika Indonesia merdeka, mereka membeli tanah dan membangun gereja di lokasi di mana gereja berdiri saat ini.

“Waktu gempa dan tsunami gereja kami hancur. Kami mengajukan IMB yang baru ke pemerintah. Atas bantuan banyak pihak, LSM, BRR, kami bisa membangun gedung gereja baru,” terang Pdt. Johan, pemimpin jemaat.

Jemaat GMI berjumlah sekitar 340 jiwa. Mayoritas keturunan Tionghoa. “Karena itu kami bisa melakukan kebaktian keluarga karena rata-rata tinggal berdekatan. Kayak pecinan gitu,” terangnya.

Pernah terjadi masalah. Seorang penginjil yang mengaku sebagai anggota GMI membaptis orang di rumahnya. “Wah itu jadi heboh. Saya sampai dipanggil keucik (kepala desa) dan polisi. Ditanyai ulang-ulang. Orang di Aceh sini memang sensitif dengan isu kristenisasi. Tapi mereka sangat terbuka kalau ibadat dilakukan di kalangan orang Kristen sendiri,” jelasnya.

Gereja GPIB Banda Aceh. Foto: Alex Japalatu

 

Dua Martir Aceh 

Hampir empat abad silam, pada tahun 1638, darah dua orang martir telah tumpah di Aceh. Mereka adalah Pastor Dionisius à Nativité, OCD dan Bruder Redemptus à Crucé OCD. Keduanya dibunuh oleh Tentara Kerajaan Aceh saat Sultan Iskandar Tani—yang menggantikan Sultan Iskandar Muda—berkuasa.

“Dulu di sini gereja Katolik pertama didirikan. Beberapa bulan lalu masih ada sisa-sisa temboknya. Sekarang sudah dibongkar semua. Di sini Dionisius dan Redemptus dibunuh,” kata Baron pada saya. Tempat gereja itu berdiri kini menjadi milik PT KAI. Letaknya persis di bibir pantai Ulee Lheue.

Dionisius bernama asli Pierre Berthelot, putra sulung pasangan bangsawan Perancis Berthelot dan Fleurie Morin. Ia lahir di Honfleur, Perancis, 12 Desember 1600. Ayahnya adalah dokter dan nahkoda kapal.

Pierre sangat berbakat di bidang pelayaran. Ia juga ahli menggambar peta untuk navigasi pelayaran. Tak heran, Pierre diangkat sebagai navigator L’Espérance, kapal dagang ekspedisi Perancis ke India pada usia 19 tahun. Naas, L’Espérance takluk di tangan VOC dalam perebutan rempah-rempah. Pierre menjadi tawanan di Jawa.

Begitu dibebaskan, Pierre mengadu nasib ke daerah koloni Portugis di Malaka. Ia bekerja pada Portugis. Namanya melejit berkat kejeniusan dan keberaniannya sebagai pelaut. Hal ini memikat hati Raja Portugis, yang menobatkannya sebagai ‘ahli navigasi dan pembuat peta Asia’.

Peta Pulau Sumatra adalah karya Pierre, yang hingga kini tersimpan di Museum Inggris. Dari Malaka, Pierre hijrah ke Goa, India. Di sinilah Pierre putar haluan. Ia masuk Biara Karmelit di Goa pada 1635. Pierre memilih nama biarawan Dionisius à Nativité.

Suatu saat Wakil Raja Portugis di Goa, Peter da Silva menghendaki Dionisius ikut dalam kunjungan persahabatan kepada Sultan Iskandar Tani di Aceh pada 1638.

Dionisius akan dijadikan navigator dalam pelayaran, sekaligus Bapa Rohani bagi delegasi Portugis yang ingin memperbaiki relasi dengan Aceh. Dionisius juga fasih berbahasa Melayu.

Dionisius meminta Bruder Redemptus à Crucé OCD untuk mendampingi perjalanannya. Bruder Karmelit yang bernama asli Thomas Rodriguez da Cunha itu adalah mantan serdadu Portugis yang ditugaskan di Goa. Ia menjadi bruder dan bekerja sebagai penjaga pintu biara, pelayan imam, koster, penerima tamu, dan pengajar anak-anak. Mereka berangkat pada 25 September 1638, dengan satu kapal dagang dan dua kapal perang.

Sebulan kemudian mereka berlabuh di Kutaraja. Penduduk menyambut baik. Namun Belanda menghasut Sultan Iskandar Tani. Belanda mengatakan bahwa misi Portugis hendak melakukan kristenisasi kepada masyarakat Aceh yang sudah memeluk agama Islam.

Termakan hasutan Belanda, semua anggota misi Portugis ditangkap. Mereka disiksa agar menyangkal imannya. Mereka meringkuk di penjara dalam kondisi mengenaskan selama sebulan. Kehabisan akal, Sultan Iskandar Tani pun mengeluarkan maklumat untuk menghukum mati para tawanan itu. Pembantaian massal pun terjadi pada 29 November 1638.

Peristiwa pendaratan dan pembantaian utusan Portugis ini disinggung juga dalam catatan perjalanan Karl May ke Aceh dan Padang dalam buku “Dan Damai di Bumi” (KPG. Cet.2, 2016).

“Konon setelah dibantai jenazah Dionisius dan Redemptus tetap utuh selama tujuh bulan. Jasad keduanya tetap segar dan tak sedikitpun membusuk,” kata Baron.

Lalu dua jenazah itu dimakamkan secara terhormat di Pulau Dien atau Pulau Buangan, sebelum dibawa ke Goa dan disemayamkan di sana.

260 tahun kemudian Gereja Katolik memberi gelar beato, orang suci, kepada mereka. Peringatan dua martir Aceh ini jatuh setiap 29 November.

Editor: Basilius Triharyanto 

 

 

Wartawan dan Penulis. Ia menulis sejumlah buku tentang Gereja dan Kekatolikan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.