Yakobus Tri, 27 Tahun Sebagai Koster di Gua Maria Sendangsono

Sempat kuliah di IPI Malang, pulang ke Sendangsono karena harus merawat bapak yang sepuh.

0 56

Katolikana.com—Sebagai koster yang telah 27 tahun mengabdi dan berkarya di Gua Maria Sendangsono, Yakobus Tri bertanggung jawab melayani Romo dan peziarah yang datang secara rombongan, hingga membersihkan kapel.

Cuaca terik di siang itu tak menyurutkan langkah kaki Yakobus Tri menemui tim Katolikana. Dengan senyum lebarnya, pria kelahiran 4 Mei 1971 menyapa dan bercerita dengan tulus mengenai perjalanannya menjadi Koster di Gua Maria Sendangsono.

Memilih Pulang

Yakobus Tri bercerita, ketika memasuki bangku kuliah di semester kedua, ia dihadapkan dengan kondisi bapaknya yang sudah sepuh dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya.

Tahun 1994, Tri memilih untuk berhenti kuliah di Kota Malang dan pulang merawat bapak di rumah. Sembari merawat, warga dusun Banjaroya ini menjatuhkan pilihannya untuk mengabdi di Gua Maria Sendangsono.

Pada awalnya, ia merasa berat meninggalkan Malang karena pendidikannya.

“Saat itu saya hanya bisa bertanya-tanya, kok aku? Apa harus yang bungsu yang mengalah,” ujarnya.

Bungsu dari tiga bersaudara ini merasa hanya dia yang bisa pulang dan merawat orang tuanya di desa. Kedua kakaknya telah memiliki pekerjaan masing-masing yaitu sebagai TNI Angkatan Darat dan pekerja di bidang perhotelan.

Setelah mantap untuk pulang, ia mengikuti training selama enam bulan di Gua Maria Sendangsono. Ia lalu mengajukan lamaran ke Romo Vikep DIY Romo Ignatius Jayasewaya, Pr. Dua tahun setelah itu, tahun 1996, ia diangkat menjadi karyawan tetap.

Ketika pulang ke Sendangsono, Tri juga memboyong sang pacar Lusiana Erwinarti asal Nganjuk, Jawa Timur, yang merupakan teman kuliahnya di Malang. Mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Kapel Sendangsono tahun 1994.

Tahun 1995, lahirlah putra pertama mereka bernama Ambrosius Edo Putra Perdana. Tahun 1999, lahir putra kedua bernama Matius Willy Kurnia Putra.

Ungkapan Rasa Syukur

Mengarungi bahtera rumah tangga sekaligus mengabdikan diri pada Bunda Maria, memberikan rasa yang berbeda di hidupnya.

“Kebahagiaan, kenyamanan, ungkapan rasa syukur yang senantiasa tidak henti-hentinya kami terima sebagai keluarga,” ujarnya.

Hal ini ia ungkapkan ketika mengingat bahwa apa yang ia kerjakan seluruhnya demi kemuliaan nama Bunda Maria dan Yesus.

Setiap ada acara-acara besar di Gua Maria Sendangsono, ia selalu melaksanakan dengan sukacita. Menurutnya, ketika melakukan tugas dengan sukacita maka ia dan keluarga akan diberkati selalu oleh Sang Pemberi Kehidupan.

Melalui tangan baik dari beberapa peziarah, ia mendapat rezeki yang sangat cukup untuk kehidupan keluarga.

Sebelum terdampak pandemi COVID-19, waktunya untuk keluarga dan diri sendiri menjadi berkurang. Saat masa normal, kunjungan peziarah di Gua Maria Sendangsono tidak dibatasi.

Karena itu, ketika terdapat rombongan peziarah yang datang untuk berdoa secara khusus pada pukul 01.00 atau 02.00 dini hari, selalu dilayani olehnya.

Menjadi Prodiakon

Selama menjadi Koster, ia memiliki kegiatan lain yang juga menyita waktu. Terhitung sejak 15 tahun terakhir, ia memegang posisi sebagai Bendahara di lingkungan.

Ia juga menjadi ketua Paguyuban Doa di lingkungannya. Selain itu, ia menjadi tim Satgas COVID-19 di lingkungan dan juga menjadi koordinator putra altar.

Selain itu, ia telah diangkat menjadi Prodiakon atau Asisten Imam sejak tiga tahun lalu.

“Ada kedekatan secara istimewa, menjadi Prodiakon yang membantu Romo dalam membagikan komuni pada umat yang mengikuti misa,” ujarnya.

Baginya, kegiatan ini tidak akan saling mengganggu dan bertabrakan karena penjadwalannya yang telah disesuaikan.

Tri menambahkan, ada memori yang berkesan baginya selama bekerja dan berkarya di tempat ini.

“Saya dua kali pernah mendapat kesempatan untuk memberikan khotbah di hadapan para peziarah yang datang,” ungkapnya.

Waktu itu, ia diberi mandat oleh seorang Romo dari Surabaya untuk menjelaskan mengenai sejarah Sendangsono.

Ia juga sedikit menyelipkan cerita mengenai iman akan keberadaan Bunda Maria di komplek peziarahan ini. Saling berbagi cerita mengenai iman selama berkarya di peziarahan ini, ia anggap sebagai pembaharuan iman.

Bekerja dan berkarya di tempat religi membuat ia dan karyawan yang mengurus tempat ini memiliki pengalaman tersendiri.

“Sering mengadakan pertemuan rutin untuk berdoa secara bersama-sama dan merefleksikannya,” imbuhnya.

Selain refleksi iman, ia juga merasakan berkat yang senantiasa mengalir di kehidupannya. Berkat yang dalam segala bentuk seperti kesehatan dan rezeki yang terus ada untuk keluarga.

Ia menganggap seluruh berkat yang ia terima tidak selalu sukacita, namun juga duka atau pun cobaan. Suka atau pun duka yang menghampiri keluarga, sudah dianggap oleh keluarga Tri sebagai pendukung iman kepada Yesus dan Bunda Maria.

Menurutnya, iman keluarganya diuji dan mereka diingatkan agar selalu mengucapkan rasa syukur atas segala berkat yang sudah diterima.*

Kontributor: Inezia Sukonco, Clarisa Natania, Katarina Widhi, Rufus Christian (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.