Hendrawan Setiawan: Kepuasan Seorang Jurnalis Ketika Tujuan yang Diinginkan Mampu Dicapai…

Hendrawan pernah mengalami liputan menggunakan kaset besar DVCPRO, Mini DV, memory card, hingga telepon genggam.

0 60

Katolikana.comHendrawan Setiawan, jurnalis senior asal Yogyakata, sudah berkecimpung di bidang media penyiaran atau broadcasting kurang lebih selama 18 tahun.

Hendrawan Setiawan

Hendra kini bekerja di CNNIndonesiaTV Biro Yogyakarta. Sebelum di CNN, ia sempat bekerja di Metro TV, RCTI dan stasiun berita nasional lainnya.

Sejauh menggeluti bidang jurnalistik, Hendrawan memiliki banyak pengalaman dalam bidang penyiaran. Ia juga sangat menikmati profesi yang ia dalami hingga kini.

Pengalamannya sebagai jurnalis bermula saat membuat liputan menggunakan kaset besar DVCPRO, berubah menjadi Mini DV, lalu memory card dan saat ini menggunakan telepon genggam.

Proses panjang yang dilalui juga tidak mudah. Awalnya ia tidak tahu cara menulis berita dengan baik, menarik, dan bermanfaat bagi masyarakat. Namun, kemampuan itu berkembang seiring dengan perjalanan waktu.

Ia juga mulai terus mendalami dan berproses dalam menggeluti profesi sebagai jurnalis dengan terus belajar dalam menulis berita hardnews atau softnews yang akan ditampilkan.

Dunia Jurnalis Menarik?  

Sebagai jurnalis senior, banyak hal menarik maupun kurang menarik yang dialami oleh Hendrawan.

Salah satu contoh menarik ketika berita atau informasi yang ditulis bisa bermanfaat untuk banyak orang, dapat menjadi pengetahuan baru dan menjadi penggerak bagi pembaca untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Menurut Hendrawan, hal menarik timbul ketika berita kita menarik bagi orang banyak dan berita yang kita gali menjadi pengetahuan publik.

“Tidak hanya menjadi pengetahuan, namun informasi yang ada dapat menjadi penolong untuk mereka melakukan sesuatu,” papar Hendrawan kepada Katolikana, Selasa (6/9/2022).

“Kepuasan seorang jurnalis, ketika tujuan yang diinginkan mampu dicapai sesuai dengan target penulisnya,” tegasnya.

Hal kurang menarik juga ditemukan selama ia bekerja di dunia jurnalistik sedari awal karier hingga kini.

Salah satunya, ancaman ataupun pekerjaan yang dianggap berisiko. “Dengan adanya hal seperti ini, seseorang yang berprofesi sebagai jurnalis harus selalu berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya,” ujarnya.

Pekerjaan sebagai jurnalis juga menerima tantangan-tantangan berupa ancaman dari beberapa pihak, sebagai contoh aparat negara, sehingga profesi ini menjadi lebih menantang untuk dijalankan.

Menurut Hendrawan, tantangan lain juga datang dari pihak-pihak di luar dari negara, yang mengakibatkan demokrasi menjadi terganggu, sehingga menghambat pekerjaan jurnalis dalam menuliskan berita maupun informasi.

Salah satu ancaman yang pernah dialami oleh Hendrawan saat pembangunan Yogyakarta International Airport di Kulon Progo, di mana saat itu ia hampir diserang oleh pihak Brimob.

Ia mengatasi ancaman tersebut dengan cara mampu memosisikan dirinya sebagai seseorang yang berprofesi sebagai jurnalis.

Di saat ada pihak-pihak yang menghambat pekerjaannya, ia akan menjelaskan siapa dan apa yang akan dia kerjakan di tempat tersebut. Tak lupa, ia juga menjelaskan bahwa melakukan perekaman atau peliputan adalah bagian dari pekerjaannya.

Hendrawan Setiawan saat melakukan Live Reporting di CNN Indonesia TV. Foto: Istimewa

Berita vs Informasi 

Banyak warga masyarakat yang masih bingung membedakan mana yang disebut dengan berita dan informasi.

Hal tersebut berdampak pada profesi jurnalis karena masyarakat juga tidak bisa membedakan mana seorang jurnalis dan mana yang bukan jurnalis berdasarkan konten yang dibuat.

“Tidak semua informasi dapat dikatakan sebagai berita. Informasi yang ada akan diolah oleh jurnalis melalui verifikasi dengan pihak-pihak yang berhubungan atau mengerti dengan kejadian tersebut dengan melakukan wawancara,” papar Hendrawan.

“Informasi yang kejelasannya belum pasti akan berubah menjadi berita yang pasti karena telah melalui proses verifikasi oleh jurnalis kepada pihak yang berhubungan langsung dengan isu maupun informasi tersebut,” tambahnya.

Menurut Hendrawan, tujuan informasi juga perlu diperhatikan dengan saksama. “Jika target konsumen kepada khalayak luas dan untuk kepentingan masyarakat, maka hal ini dapat dikatakan sebagai berita.”

“Namun, jika konten yang dibuat dengan tujuan mengulik diri seseorang dan tidak memiliki kepentingan untuk masyarakat luas, tidak dapat dikatakan sebagai berita melainkan disebut dengan informasi,” lanjutnya.

Hendrawan menambahkan, seorang jurnalis harus membangun relasi yang luas dengan sesama jurnalis dan mampu menjalin hubungan dengan narasumber agar dapat mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam proses pembuatan konten berita.

“Tidak masalah jika nomor pribadi jurnalis akan tersebar luas. Karena hal tersebut dapat membantu pekerjaan jurnalis dalam mencari konten maupun informasi yang akan dijadikan sebagai berita,” ujarnya.

Riset adalah hal yang dapat dilakukan oleh jurnalis dalam pembuatan konten berita. Riset dapat dilakukan melalui pencarian informasi melalui berita online atau pencarian secara langsung kepada narasumber.

Strategi Pembuatan Berita

Pengalaman adalah salah satu hal penting bagi jurnalis dalam proses pembuatan konten berita.

Hendrawan yang sudah berkarir di bidang jurnalistik selama 18 tahun tentu punya banyak pengalaman dalam membuat berita.

Ia melewati proses selama lima tahun dalam membuat softnews maupun hardnews yang penulisannya benar atau tidak memiliki banyak koreksi oleh tim editor maupun produser.

Menurut Hendrawan, kemampuan seorang jurnalis akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

“Dari sini muncul strategi-strategi yang bermanfaat bagi jurnalis untuk membuat konten berita,” katanya.

Pesan untuk Jurnalis Muda

Ketika digitalisasi muncul, ada titik di mana ketakutan atau bahkan ketidakyakinan bahwa jurnalisme bisa bertahan. Bahkan, ketakutan itu sampai ke tahap apakah mereka yang bekerja di bidang jurnalisme akan terus bertahan atau justru akan punah?

Hendrawan mengatakan hal ini diakibatkan karena makin banyak berita maupun informasi yang dibuat tanpa dasar jurnalistik.

“Berita-berita di era digitalisasi makin cepat beredar dan dapat dibuat oleh siapa saja,” tambahnya.

Menurut Hendrawan, profesi jurnalis sangat penting dalam mengatasi hal-hal seperti ini karena dengan bantuan jurnalis berita-berita di tengah masyarakat dapat diatur.

Hendrawan berharap jurnalis muda dapat berperan aktif dalam bidang jurnalistik.

“Kelak profesi ini akan berguna dan akan tetap terus berguna bagi masyarakat. Jurnalis muda harus siap dan mampu menghadapi tantangan-tantangan yang ada,” ujarnya.

Hendrawan menambahkan, bentuk digitalisasi yang beragam dapat membantu jurnalis muda menemukan pola jurnalisme yang berbeda-beda yang bermanfaat bagi masyarakat.**

Kontributor: Frederico Hanung, Prisca Iresti, Amanda Stevany, Tiksow Febrianty

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.