Wahyu Aji Berjihad Sebagai Aktivis Lingkungan

Kecintaan pada alam membawanya berkelana menyuarakan krisis lingkungan.

0 51

Katolikana.comPengalaman dan perjalanan hidup Wahyu Aji membuatnya memberanikan diri menjadi aktivis lingkungan.

Saat masih belajar di bangku sekolah, Wahyu telah menunjukkan ketertarikan terhadap alam, seperti aktivitas outdoor, pramuka, penanaman pohon, hingga mata pelajaran biologi.

Sejak 2017, pemuda asal Jogja ini aktif mengenal dan ikut dalam komunitas aktivis lingkungan.

Pengalaman dan perjalanan hidup Wahyu Aji membuatnya memberanikan diri menjadi aktivis lingkungan. Foto: Istimewa

Menobatkan diri sebagai aktivis lingkungan menjadi motivasi bagi Wahyu agar terus aktif bersuara untuk lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Wahyu melihat sumber daya alam seperti air dan udara yang sehat yang seharusnya dapat terpenuhi secara layak untuk masyarakat, namun setiap tahun kualitas menurun.

“Terjadi perusakan lingkungan yang dikhawatirkan menimbulkan berbagai dampak buruk. Kita bisa membantu suara masyarakat yang terbungkam, dan membantu mencerahkan mengenai berbagai mitos dan fakta lingkungan,” ujar Wahyu kepada Katolikana, Kamis (8/9/2022).

Respect the earth, praise the humanity. Slogan ini bagi Wahyu berpesan bahwa kita perlu menghargai bumi yang telah kita huni karena sudah memberikan banyak hal kepada kita.

Menurut Wahyu dengan makin sadar bahwa pentingnya menghargai bumi, maka kita juga akan menjaga isi bumi sebagai satu rantai ekosistem yang perlu dijaga kelestariannya.

Pengalaman Sebagai Aktivis

Selama menjadi aktivis lingkungan, pola hidup Wahyu juga berubah. Awalnya ia hidup boros, kini ia lebih hemat dan aware dari apa yang ia konsumsi dan produksi sehari-hari.

“Melihat apakah itu mencederai lingkungan, bagaimana saya bisa lebih efektif dan efisien dalam menggunakan sumber daya, listrik, dan air,” kata Wahyu.

Wahyu melakukan banyak cara untuk menyampaikan pesan-pesan lingkungan. Beberapa kali ia diundang sebagai narasumber untuk sharing, mengisi diskusi, aksi, membuat konten, dan mengisi berbagai kegiatan yang sifatnya untuk mendorong keberlangsungan lingkungan.

Komunitas Jeda Iklim menjadi komunitas bagi Wahyu untuk aktif menyuarakan keadilan iklim. Komunitas ini pun hadir di berbagai kota di Indonesia, seperti Yogyakarta, Jakarta, Jayapura, Makassar, hingga Batam.

Mereka menggelar berbagai kegiatan, seperti aksi, workshop, sosialisasi krisis iklim, edukasi, dan sebagainya.

Ia juga mendorong orang-orang terdekat agar ikut peka terhadap lingkungan meski ia mengaku cukup sulit untuk melakukannya.

“Mendorong biar lebih aware terhadap lingkungan cukup susah, jadi harus pelan-pelan. Misalnya dengan mencontohkan hal-hal yang baik untuk lingkungan, memberi tahu sedikit demi sedikit. Seperti perubahan cuaca yang makin esktrem ada sebabnya karena penebangan hutan, tambang, polusi yang tidak terkendali,” papar Wahyu.

Menurut Wahyu, apa yang dilakukan ini semacam jihad, artinya bahwa aktivis lingkungan adalah suatu yang mulia.

“Kita tidak cukup hanya menjadi orang cerdas saja kalau kita belum peka terhadap lingkungan alam dan keberlangsungan hidup ekosistem,” ujarnya.

Suka duka pernah dilalui Wahyu sebagai aktivis lingkungan. Ia mengatakan banyak stigma yang beredar di masyarakat. Seperti dipandang hidupnya akan merana karena tidak dapat gaji, kadang disepelekan dan tidak dianggap.

Ia mengaku makin belajar aktivisme lingkungan justru ia merasa makin kecil dibandingkan dengan apa yang ada di bumi, lebih bersyukur dan menghargai bumi.

“Dukanya, saya pernah dibilang munafik karena berani teriak tentang isu lingkungan tapi masih pakai kendaraan bermotor, dibilang sok paling peduli lingkungan. Sukanya, makin bersyukur dan berbelas kasih dengan bumi, serta semakin bijaksana dalam memaknai hidup,” paparnya tentang suka duka sebagai aktivis lingkungan.

Selama menjadi aktivis lingkungan pengalaman yang tak terlupakan bagi Wahyu adalah ia pernah diteror oleh orang-orang tak dikenal.

Ia merasa senang karena memiliki teman-teman dengan tujuan yang sama terhadap lingkungan serta bisa jalan-jalan ke berbagai daerah untuk menyuarakan isu lingkungan.

Wahyu mengaku jadi lebih tahu bahwa ternyata karakter orang-orang itu unik terutama pemerintah.

Salah satu aksi yang dilakukan oleh Wahyu Aji. Foto: Istimewa

Respon Pemerintah dan Swasta

Sejauh yang ditemui Wahyu di lapangan, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat punya respon beragam.

Ada yang di depan mendukung narasi yang digaungkan namun yang terjadi berbeda dengan apa yang telah dibicarakan sebelumnya.

Ada yang tiba-tiba terbentur dengan birokrasi, ada pemerintah yang menolak mentah-mentah dan tidak mau mendengarkan suara aktivis lingkungan.

“Di belakang entah apa yang terjadi rasanya tidak linear dengan apa yang terjadi waktu kita bertemu. Tidak ada tindak lanjut yang sudah kita diskusikan sebelumnya,” ujar Wahyu.

Menurutnya, pemerintah punya tools yang paling powerful dalam menangani permasalahan lingkungan.

Pemerintah memegang kebijakan di daerah maupun pusat. Jadi, mereka bisa menggerakkan banyak hal dari berbagai sektor swasta maupun masyarakat.

“Menjadi pemerintah bukan makna harfiahnya memerintah, namun menjadi fasilitator atau pembantu masyarakat, dengan cara mendengar dan mengakomodasi keluhan atau suara masyarakat khususnya dalam konteks lingkungan,” kata Wahyu.

Respon swasta juga beragam. Ada yang sangat kooperatif terutama swasta yang memiliki perspektif tentang lingkungan. Ada juga yang masih ragu-ragu untuk diajak kolaborasi.

Infografis

Pesan

Selama menjadi aktivis lingkungan banyak respons yang Wahyu dapatkan. Ada masyarakat yang memahami apa itu krisis iklim, namun ada juga masyarakat yang ogah-ogahan karena merasa daerahnya masih aman dan tidak terjadi sesuatu yang ekstrem.

Ada masyarakat yang penasaran dan ragu untuk terlibat menjadi aktivis lingkungan. Ada juga yang akhirnya memiliki aksi individual, seperti membuat konten mengenai isu lingkungan, dan berusaha menerapkan pola hidup ramah lingkungan di rumah.

Wahyu berpesan agar tidak menolak mentah-mentah informasi mengenai isu lingkungan agar masyarakat melakukan apa yang bisa dilakukan hari ini khususnya yang dapat membuat lingkungan terjaga.

“Sekecil apa pun itu lakukan saja dengan begitu teman-teman. Hal itu sudah selangkah lebih maju untuk membuat lingkungan yang lebih baik,” ujarnya.

Bagi teman-teman aktivis lingkungan, Wahyu menyampaikan betapa pentingnya tetap menjaga kesehatan baik fisik maupun mental dan kesejahteraan.

Jangan sampai dengan menjadi aktivis lingkungan membuat aktivis makin terpuruk.

“Kunci keberhasilan dalam berkomunitas adalah sesolid apa, seberkelanjutan apa, dan bagaimana kesejahteraan para anggota komunitas,” kata Wahyu.**

Kontributor: Frederico Hanung, Prisca Iresti, Amanda Stevany, Tiksow Febrianty

 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.