Saya, Uskup John Saklil, dan Mop Papua di Roma

Kenangan indah seorang imam muda Papua yang bertemu dengan Uskup John Saklil di Roma, sebelum wafat pada 3 Agustus 2019.

0 446

Katolikana.com – Malam itu, 8 Juni 2019, saya bertemu dengan Bapa Uskup John Saklil di Vatikan. Saat itu, ia bersama para uskup se-Indonesia melakukan kunjung Ad Limina Apostolorum di Vatikan selama beberapa hari, 8-16 Juni 2019.

Kisah ini kenangan terakhir saya bersama Uskup John Saklil, yang pada 3 Agustus 2019 lalu menghadap Bapa selamanya. Wafatnya mengejutkan saya dan banyak kalangan dan umat di Tanah Papua.

BACA: https://www.katolikana.com/2019/08/07/seribuan-umat-hadiri-misa-requiem-uskup-john-saklil/

Malam itu sudah larut. Uskup John Saklil nongkrong bersama para pelajar Indonesia di sebuah cafe dekat penginapan para uskup, Domus Romana Sacerdotalis. Saya, RD Martin Silitubun (Projo Agats), RD Agus Tebay (Projo Timika), Br. Ignasius Ngari, OFM menikmati kopi Italia dan menghisap rokok Indonesia milik Uskup John, Surya 16 dan Sampoerna. Sementara Uskup John menghisap rokok Marlboro merah produk Italia. “Sesekali rasa rokok Eropa lah,” kata Uskup John.

Di tengah kepulan asap rokok dan tebaran aroma kopi itulah cerita kami mengalir. Tentunya tema pembicaraan seputar Papua, tempat kami berlima berasal dan berkarya. Tidak semua sharing beliau dipublikasikan di sini. Berikut ini sebagian cerita dan nasihat beliau yang terekam.

Pertama, jangan lupa memperhatikan orang muda. Mereka adalah masa depan gereja. Jangan pernah ragu pada mereka karena mereka sangat kreatif. “Ketika memulai Indonesian Youth Day, banyak orang ragu. Saya katakan pada orang muda, kamu bisa. Dan memang bisa, malah luar biasa sekali. Kini, gerakan orang muda sudah jalan ke setiap keuskupan di Indonesia berupa Diocese Youth Day,” cerita Uskup.

Kedua, pentingnya gerakan Tungku Api. “Saya pindah dari Komisi Kepemudaan KWI ke Komisi Sosial Ekonomi. Gerakan utama ialah Gerakan Tungku Api. Tungku api tra menyala, berarti masyarakat dong pu dusun su trada, dong su trada makan (mereka punya dusun sudah tak ada, mereka sudah tak ada makan) . Ini berlaku bukan hanya di Papua tapi di seluruh di Indonesia. Oleh karena itu, kita mesti berjuang agar masyarakat jangan pernah menjual tanah mereka. Kalau terpaksa, disewakan, sehingga masyarakat tetap mempunyai tanah,” tegas Uskup John Saklil.

“Tapi tong teriak sampe capeh, sama saja. Masyarakat dong tetap saja jual tanah. Kami di Timika juga sekarang sudah ada perkebunan kelapa sawit, sudah ada perusahaan kayu,” kata Uskup John, melanjutkan.

Ketiga, “Kami yang uskup dan kamu yang imam, dalam pelayanan harus perhatikan semua umat, jangan pilih-pilih. Perhatikan juga kelompok-kelompok kategorial di Keuskupan dan di Paroki, termasuk komunitas religus, suster-suster,” kata Uskup John.

“Suster-suster kalau kita rangkum, mereka kerja luar biasa untuk paroki dan keuskupan. Tapi kalau kasih perhatian, untuk semua. Jangan hanya salah satu atau salah dua. Itu nanti rame,” kata uskup lagi.

Demikian tiga hal penting yang saya rekam dari Paitua Uskup, ditengah cerita-cerita ringan dan MOP ala Papua, yaitu cerita-cerita lucu, bisa dari pengalaman riil, bisa cerita rekaan.

MOP paling berkesan malam itu tentang seorang ‘Ibu Gila’ dengan  yang mengaku jatuh cinta pada Uskup John. Setiap kali ia datang ke rumah keuskupan, situasi menjadi ramai. Soalnya, si Ibu akan mengusir para suster yang bekerja di rumah keuskupan.

“Uskup itu saya punya, tidak boleh ada dekat-dekat dan ganggu gugat,” kata si Ibu.

“Jatuh cinta itu sulit dimengerti. Apalagi ini orang gila yang jatuh cinta. Saya jelaskan berkali-kali juga tidak ada guna. Adoo, saya kepala sakit hadapi ibu itu tapi sudah biar saja,” cerita Uskup sambil tertawa keras.

Selamat jalan Paitua (Bapa), beristirahatlah dalam damai. Nasihat dan pesanmu akan kami kenang. Canda tawa dan mopmu bikin kami senang. Kebapaan dan persaudaraanmu bikin kami tenang melanjutkan Jalan Tuhan yang telah engkau rintis.

BACA: https://www.katolikana.com/2019/08/06/monsinyur-john-saklil-nosso-bispo-querido/

Saya pindah dari Komisi Kepemudaan KWI ke Komisi Sosial Ekonomi. Gerakan utama ialah Gerakan Tungku Api. Tungku api tra menyala, berarti masyarakat dong pu dusun su trada, dong su trada makan (mereka punya dusun sudah tak ada, mereka sudah tak ada makan) . Ini berlaku bukan hanya di Papua tapi di seluruh di Indonesia. – Uskup John Saklil. 

Editor: Basilius Triharyanto

Imam Fransiskan, lahir di Mataloko, Flores pada 1987. Sebelas tahun bertugas di Papua. Kini sedang studi di Roma, Italia. Menulis buku Fenomena Papua: Esai-esai Sosial (2018, SKPKC Fransiskan Papua).

Leave A Reply

Your email address will not be published.