Eulogi Herry Priyono SJ: Manusia Dalam Berbagai Tegangan

Romo Herry, yang disebut Yesuit tulen, bukan semata milik keluarganya. Ia bahkan tidak hanya milik Serikat Yesus. Ia juga milik publik luas yang sering mendengarkan ceramah dan kuliahnya, serta membaca karya-karyanya yang bermutu.

0 719

Suatu hari di Yogyakarta tahun 1975. Engelbertus Suratno melepas kepergian anak keduanya, yang akan memulai pendidikan menengah atas ke Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Pesannya singkat saja, “Jadi apa pun dan hidup di mana pun, berbuatlah sesuatu untuk masyarakat!”

Nama anak itu adalah Bernardinus Herry Priyono. Ia tidak lantas memahami apa maksud perkataan si ayah yang pendiam dan tenang itu, tapi mengaku lambat laun merasakan artinya. Hal ini dituangkan Romo Herry, orang kelak menyapanya demikian, lewat sebuah karangan berjudul Dalam Tegangan Dua Karakter. Ada 31 tokoh lain yang menulis kisah tentang orangtua mereka dalam sebuah buku berjudul Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orangtua (GPU, 2011).

Meninggalnya Romo Herry karena serangan jantung pada 21 Desember lalu mengejutkan banyak orang. Orang-orang terdekatnya, maupun orang macam saya, yang hanya dari jauh mengagumi buah-buah pikirannya, yang tertuang dalam sejumlah buku, ceramah, makalah, khotbah misa, dan sebagainya.

Romo Herry lahir di Yogyakarta pada 31 Mei 1960. Seluruh pendidikan dasarnya, ia tempuh di Ngemplak, Sleman, Yogyakarta sebelum kemudian berlanjut ke Seminari Menengah Mertoyudan, Jawa Tengah dari tahun 1975 – 1979. Ia lantas bergabung dengan Serikat Yesus, melanjutkan studi filsafat, sosiologi, teologi, teori ekonomi, politik dan sosial, serta studi ekonomi-politik di Jakarta, Manila, Yogyakarta, dan London.

Perjalanan imamat dan akademis telah membawa pria yang rajin berolahraga ini pada berbagai peristiwa serta perjumpaan dengan banyak kalangan: umat Katolik, akademisi, aktivis lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa, pemulung, korban penggusuran, dan sebagainya.

 

Pemakaman Romo Herry Priyono, tampak kedua orang tuanya memberikan sentuhan penghormatan terakhir/Foto: Katolikana (Screenshoot Komsos Girisonta)

Institut Sosial Jakarta

Suatu ketika, sekitar tahun 1990an, Romo Herry marah besar. Sebuah rumah sakit swasta di Jakarta menolak untuk merawat seorang pemulung yang sedang sakit. “Gila ini rumah sakit borjuis, tidak mau menolong orang miskin,” kata pengacara sekaligus aktivis kemanusiaan Azas Tigor Nainggolan menirukan kata-kata Romo Herry kala itu.

Seperti ditulis Tigor di status Facebook miliknya pada 21 Desember lalu, saat itu Romo Herry tengah mengantar seorang pemulung yang sakit kritis dan akhirnya meninggal dunia. Tigor dan Romo Herry berkawan sekaligus berkarya bersama di Institut Sosial Jakarta (ISJ), saat Romo Herry antara kurun waktu 1992-1994 menjadi peneliti utama dan Wakil Direktur di lembaga tersebut.

ISJ kala itu aktif mendampingi kaum miskin kota dan melakukan advokasi hak-hak dasar. Pada bulan Mei 1998, Romo Herry kebetulan berada di Jakarta dan membantu korban kerusuhan serta memetakan pola kejadian.

Tigor mengaku belajar dari almarhum soal bagaimana menganalisis situasi sosial politik dan pemiskinan oleh struktur kekuasaan. Romo Herry juga dianggapnya sebagai guru menulis fakta dan membongkar fakta dalam melakukan advokasi bersama warga miskin di Jakarta. “Bersama Romo Herry, saya belajar membongkar fakta penindasan yang dialami para korban,” tulis Tigor.

Membaca kisah pemulung malang itu, saya lantas teringat pada pidato kebudayaan Romo Herry berjudul Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan yang dibacakannya atas undangan Dewan Kesenian Jakarta pada 10 November 2006. Dikatakannya dalam pidato itu, “Entah yang mana, dalam proyek neo-liberal soalnya bukan ketuaan atau kemiskinan itu sendiri, tetapi ketuaan dan kemiskinan telah mengutuk-nya ke dalam daya-beli rendah yang abadi.”

Memang, kepedulian dan bela rasa Romo Herry pada orang kecil sungguh terasa dan terlihat. Ia seolah tak betah, kalau hanya mengumbar kata-kata di mimbar-mimbar akademis maupun khotbah dalam misa. Ia selalu ingin terlibat, seperti yang juga dilakukannya di Filipina saat People’s Power bergolak.

Tigor juga mengenang Romo Herry sebagai sosok yang piawai dalam menggambarkan situasi sosial politik dan penindasan oleh rezim orde baru pada masanya. Pada suatu hari di ISJ, Romo Herry mengatakan, bahwa rakyat kecil, dalam situasi seperti apa pun, akan selalu jadi korban. Ia menggambarkan, baik saat gajah berkelahi atau saat bersanggama, selalu saja rumput yang jadi korban. Romo Herry mau menunjukkan, bahwa saat penguasa dan elit politik berkelahi, mereka akan mengorbankan rakyat kecil. Begitu pula  ketika penguasa dan  elit politik  sedang mesra dan berbagi kue kekuasaan, rakyat kecil jugalah yang akan dikorbankan. Saat membaca status Facebook Tigor itu, saya merasa relevansi kata-kata Romo Herry sungguh tak luntur ditelan zaman, hingga saat ini.

Made Supriatma, kawan lama almarhum yang kini menjadi Visiting Research Fellow dalam studi Indonesia di ISEAS – Yusof Ishak Institute, Singapura, tahu bahwa Romo Herry memiliki komitmen sangat khusus terhadap ISJ. “Dia mengatakan pada saya bahwa ke depan, kalau diizinkan oleh Provinsial Yesuit, dia akan bekerja di ISJ. Dan itulah yang terjadi,” tulis Made dalam status Facebook pada hari Romo Herry meninggal dunia.

Lima Indra

Pada Agustus 2008 Romo Johannes Hariyanto SJ –kala itu bekerja untuk Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ) Unit Barat– bersama sepuluh orang awam termasuk saya, merintis sebuah komunitas pembelajaran bagi Orang Muda Katolik bernama Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak). Meski berlabel kampus, KOMJak tidak punya gedung sebagaimana kampus di manapun. Di KOMJak, para orang muda berusia maksimal 26 tahun mempelajari persoalan-persoalan sosial ekonomi, sosial politik, serta multikulturalisme, selama lebih kurang delapan bulan.

Berbeda dengan pembelajaran di kampus pada umumnya, semua proses pembelajaran di KOMJak diawali dengan observasi lapangan, disusul dengan studi dalam kelompok, pembacaan literatur, melakukan analisis event-pattern-structure dari setiap temuan di lapangan, pertemuan dengan narasumber ahli, hingga penulisan laporan.

Untuk mendukung proses pembelajaran di modul sosial ekonomi, Romo Herry berkali-kali, dari angkatan satu ke angkatan lain, kami undang untuk mengisi sesi diskusi bersama narasumber ahli itu. Saya mencatat dalam sebuah pertemuan 6 Maret 2010, kami menghadirkan Romo Herry bersama Indro Surono, seorang praktisi di Lembaga ELSPPAT – Institute for Sustainable Agriculture and Rural Livelihood– di Bogor.

Kedua narasumber itu kami hadirkan untuk memberi ceramah atas hal-hal yang mengemuka dalam temuan para KOMJaker di masa observasi lapangan. Selain menyampaikan komentar, penjelasan dan pertanyaan-pertanyaan kritis pada para KOMJakers, kedua narasumber juga membagikan pengetahuan dan pekerjaan yang telah mereka geluti bertahun-tahun di bidang masing-masing. Secara khusus, Romo Herry mengajak para KOMJaker yang sedang belajar itu untuk menggunakan kelima indra saat melakukan observasi.

“Kenapa menekankan pada perasaan? Ketika bertemu, gunakan kelima indra kita. Setelah itu sadarilah. Perasaan itu jangan dibuang, peliharalah. Ketika Anda berdoa, ingatlah perasaan itu. Kalau Anda menganalisis masalah sosial tanpa perasaan, maka analisis Anda itu sangat dangkal. Ketika Anda menjadi pejabat atau pembuat undang-undang, pengalaman itu akan muncul lagi. Masalah di negeri ini adalah para pembuat kebijakan tidak pernah mengalami hal seperti itu,” kata Romo Herry di hadapan para KOMJaker.

Saat membaca kembali catatan pertemuan itu setelah Romo Herry meninggal dunia, saya semakin tersadarkan bahwa ia memang selalu menggunakan segenap daya dan kelima indranya dalam melihat persoalan di sekelilingnya.

Klerikalisme

Sesekali, saya dan istri, sebelum masa pandemi dan kami dianugerahi seorang bayi, mengikuti misa hari Minggu di Kapel Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat. Misa biasa dimulai jam 07.30.

Pada 24 Juni 2018, saat Gereja Katolik sejagat merayakan hari kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, misa di kapel itu dipersembahkan oleh Romo Herry. Saya senang betul, karena saya tahu ia sangat mahir dalam menyampaikan homili dengan singkat, padat, tapi berisi. Saya menyiapkan ponsel untuk merekam, sebuah kebiasaan yang beberapa tahun ini saya lakukan untuk mendokumentasikan homili-homili bermutu.

Romo Herry dalam khotbahnya menyoroti sosok Yohanes Pembaptis yang ia sebut sebagai nabi, bukan selebriti. Selebriti, kata Pastor Herry, lugasnya disebut sebagai “orang yang melakukan sesuatu untuk mencari tepuk tangan”. Karena itu, selebriti hanya mengatakan hal-hal yang menyenangkan orang. Sementara nabi, adalah orang yang mengatakan kebenaran. Entah menyenangkan atau tidak.

Kata Romo Herry, umat Katolik sering menilai bahwa sosok imamlah yang jadi pusat dari setiap perayaan ekaristi, karena, saat memimpin misa, imam berada di tengah, depan dan jadi perhatian utama. Ia menyebut, persis di sinilah penyakit klerikalisme tumbuh, sesuatu yang juga pernah disinggung Paus Fransiskus.

Dengan klerikalisme, sambung Romo Herry, orang beranggapan bahwa kaum klerus adalah pusat dari segala kehidupan beriman. Padahal, seharusnya segala kehidupan beriman itu dipusatkan pada Yesus Kristus, yang oleh Yohanes Pembaptis disebut sebagai “…yang lebih berkuasa dari padaku dan untuk membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Bdk. Lukas 3:16). Inti dari perayaan ekaristi, kata Romo Herry, juga bukan anggota paduan suara, para misdinar, lektor, atau para petugas lainnya.

 

FX Dono, perwakilan keluarga memberikan kesaksian dalam pemakamannya/Foto: Katolikana (Screenshoot Komsos Girisonta)

 

Milik Publik

FX Dono Kristianto, adik bungsu almarhum, masih mengingat sebuah obrolan antara almarhum dengan sang Ibu, Christina Suratinah, sekian tahun silam. Hal tersebut disampaikannya saat misa pemakaman pada 22 Desember lalu.

Ceritanya, saat itu keluarga sedang bergembira karena Romo Herry datang untuk berlibur ke rumah mereka di Yogyakarta. Seperti biasa, saat Romo Herry datang, Ibu mereka akan menyiapkan makanan plus membuatkan teh panas untuk si anak.

Le, kok kowe wis suwe ora teko mrene? – Nak, kok kamu sudah lama tidak datang ke sini menengok Bapak dan Ibu?” Dono menirukan pertanyaan sang Ibu pada Romo Herry, kakaknya.

“Ya, saya ini anaknya Bapak dan Ibu juga. Tapi saya ini juga anaknya Yesuit,” jawab Romo Herry.

Jawaban Romo Herry itu membuat sang Ibu terdiam lalu segera membuatkan teh panas.

Dono merefleksikan hal itu dengan sebuah kisah dalam injil, saat Bunda Maria mencari-cari Yesus yang hilang, lalu akhirnya menemukan Anaknya berada di Bait Allah. Dalam Lukas 2:49 ada tertulis jawaban Yesus pada Ibu-Nya, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah d Bapa-Ku?”

Romo Herry, yang disebut Dono sebagai Yesuit tulen, memang bukan semata milik keluarganya. Ia bahkan tidak hanya milik Serikat Yesus. Ia juga milik publik luas yang sering mendengarkan ceramah dan kuliahnya, serta membaca karya-karyanya yang bermutu.

Romo Yohanes Haryatmoko SJ –rekan satu angkatan almarhum di Serikat Yesus– sempat terhenti beberapa detik menahan tangis saat menyampaikan sambutan dalam misa pemakaman. Suaranya bergetar, saat mengatakan bahwa berbagai tulisan dan permenungan rekannya itu berkontribusi besar bagi banyak kalangan. Ia menyebut Romo Herry dikenal sebagai intelektual yang jeli dan tajam dalam analisis, sekaligus diakui luas sebagai aktivis yang punya komitmen dan kepedulian sosial, mampu membangun jaringan, sekaligus sanggup menjadi administrator yang andal.

Romo Herry disebutnya meninggalkan monumen intelektual yang sangat berarti. Banyak orang, kata Romo Haryatmoko, pasti akan mengacu ke bukunya yaitu Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi, saat bicara soal korupsi. “Ia dikenang dan banyak yang merasa kehilangan. Bukan hanya dari kalangan katolik, lintas agama, lintas kelas. Baik aktivis maupun akademisi,” kata Haryatmoko. Ungkapan kepedihan menyebar di Facebook, Instagram, grup WhatsApp, dan sebagainya. Intelektual muslim Yudi Latif misalnya, menyebut Romo Herry sebagai “manusia cerdas dengan kerendahan hati menembus pori-pori”.

 

Romo Haryatmoko SJ memberi kesaksian pada misa requiem/Foto: Katolikana (Sreenshoot Komsos Girisonta)

 

Antikorupsi

Soal monumen intelektual yang disebut Romo Haryatmoko itu, pada 13 Desember 2018, saya menghadiri Sarasehan Pustaka Komisi Pemberantasan Korupsi di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. Agenda pada saat itu adalah bedah buku setebal 664 karya Romo Herry.

Hadir sebagai narasumber saat itu Laode Muhammad Syarif, Ph.D selaku Wakil Ketua KPK periode 2015-2019; cendekiawan Muslim sekaligus Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah 2006-2015 Prof.Dr.Komaruddin Hidayat; serta Prof.Dr.Saldi Isra pakar hukum tata negara, hakim Mahkamah Konstitusi, yang juga pegiat gerakan antikorupsi. Juru bicara KPK saat itu Febri Diansyah tampil sebagai moderator.

Laode menyebut buku karya Romo Herry ini dengan fasih menjelaskan korupsi yang menghimpit peradaban dengan pendekatan multi-disiplin yang sempurna. Ia mengaku belajar banyak dari setiap alinea buku itu, sehingga “wajib” dibaca oleh setiap anak bangsa yang peduli akan masa depan Indonesia. Sedangkan Saldi Isra tanpa ragu menyebut buku tersebut sebagai sebuah kitab yang akan memberi fondasi baru dalam memahami korupsi sekaligus menjadi “darah segar” gerakan anti-korupsi di Indonesia.

Dua Karakter Berpengaruh

Sebagaimana judul karangan Dalam Tegangan Dua Karakter yang saya sebut di awal, Romo Herry dikenal publik cukup sering mengatakan, bahwa ia menghidupi tegangan antara kontemplasi dan aksi. Dalam buku itu, ia menulis bahwa hubungannya dengan kedua orangtuanya dirasa selalu ambivalen. Ayahnya pendiam, Ibunya cerewet. Ayahnya sosok tenang, Ibu sosok gelisah. Penyerahan Ayah dan pemberontakan Ibu, tradisionalitas Ayah dan modernitas Ibu, kontemplasi Ayah dan aktivisme Ibu.

“Mungkin itulah yang tanpa sadar menuntun saya kemudian suka pada perkara-perkara yang berbau paradoks: berjalan dalam tegangan-tegangan yang bukan untuk dipilih salah satu, tetapi harus mencari kunci untuk menghidupi keduanya,” tulisnya dalam halaman 106 buku itu.

Romo Haryatmoko mengatakan hal senada, bahwa kedalaman berpikir dan keterlibatan almarhum dalam berbagai persoalan sosial negeri ini ada unsur genetiknya. “Kedalaman pemikirannya, menurut saya, itu diturunkan dari Pak Ratno, ayahnya, yang pendiam, irit bicara, tapi kalau berbicara selalu berisi. Sedangkan DNA aktivisnya itu didapat dari ibunya, Bu Ratno, yang di kala masih sehat, aktif di organsiasi Wanita Katolik,” katanya.

Pesan 45 Tahun Silam

Pada Rabu, 23 Desember 2020, Engelbertus Suratno (95 tahun) dan Christina Suratinah (89) turut hadir dalam misa pemakaman anak kedua mereka itu di Taman Maria Ratu Damai Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah. Setelah misa pemakaman yang dipimpin Provinsial Serikat Yesus Indonesia Pater Benedictus Hari Juliawan SJ, sepasang orangtua itu menatapi jasad kaku si anak di sisi peti jenazah. Suratno bahkan turut menaburkan bunga saat peti jenazah sudah diturunkan ke dalam liang lahad.

Tentu, Suratno dan Suratinah merasakan sedih tak terkira melihat anak mereka terbujur kaku. Tahun 1975 mereka melepas kepergian si anak dari rumah untuk hidup di asrama seminari, dan 45 tahun kemudian mereka berdua harus merelakan kepergian si anak menuju ke keabadian, berpulang pada Tuhan yang ia kangeni. Rasa kangen itu dikisahkan oleh Agnes Retno Radityo –seorang psikolog yang juga adalah tante sekaligus mahasiswi almarhum– saat Romo Herry sehari sebelum meninggal mengatakan ini kepadanya dalam sebuah obrolan serius: “Aku kangen kepada Tuhan. Ya, itu terasa sebagai kekosongan yang pedih.”

Saya yakin, Suratno mensyukuri bahwa pesannya pada si anak tahun 1975 telah dipenuhi dengan sebaik-baiknya, setulus-tulusnya, dan sebenar-benarnya. Anaknya itu telah berbuat sesuatu untuk Gereja, bangsa, serta masyarakat, melebihi harapan yang diucapkannya 45 tahun silam.

Penerjemah dan penulis, tinggal di Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.