SD Assisi Medan Gelar Workshop Pembekalan dan Penguatan Kompetensi Guru

Sekolah perlu dibenahi dan ditata untuk menjadi sekolah berkarakter.

0 115

Katolikana.com—Suasana aula SD Swasta Assisi Medan dipenuhi semangat dan antusiasme saat 48 guru dan pegawai sekolah mengikuti Workshop Pembekalan dan Penguatan Kompetensi yang berlangsung pada Sabtu (23/3/2024).

Acara ini merupakan upaya dari Pimpinan Sekolah SD Swasta Assisi Medan untuk meningkatkan kompetensi dan memperkuat karakter para guru, dengan harapan mampu membawa sekolah menuju status sekolah yang berkarakter.

Panggilan Sebagai Guru

Dosen PGSD Universitas Sari Mutiara Indonesia Barita Esman Dabukke tampil sebagai pembicara utama.

Dalam sesi pembukaan, BE. Dabukke mengajukan pertanyaan yang memicu refleksi mendalam bagi para Guru SDS Assisi. “Masih relevankah konsep Tut Wuri Handayani dalam konteks pendidikan modern?”

Dia meragukan relevansi konsep Tut Wuri Handayani dalam konteks pendidikan modern. Pertanyaan tersebut menyoroti esensi dari peran seorang Guru, apakah sekadar sebagai pengajar yang memberikan perintah atau sebagai pendidik yang menjadi teladan dan model bagi murid-muridnya.

Pertanyaan ini tidak hanya menciptakan refleksi mendalam di antara para peserta, tetapi juga memberikan arah bagi diskusi yang akan mengikuti.

Dabukke kemudian melanjutkan dengan menjelaskan konsep yang lebih luas tentang peran seorang guru dalam pembentukan karakter siswa.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan perkembangan generasi masa depan. Namun, seringkali peran Guru dianggap hanya sebatas pengajar, padahal seharusnya lebih dari itu.

Barita Esman Dabukke menekankan bahwa seorang guru bukan hanya sekadar teacher dalam artian mengajar, tetapi lebih dari itu, seorang guru adalah educator yang memiliki tugas utama sebagai pendidik.

Dabukke menjelaskan perbedaan antara “mengajar” dan “mendidik”. Dia mengatakan, “Mengajar itu tranfer of knowledge sedangkan mendidik itu adalah sikap.”

Dosen PGSD Universitas Sari Mutiara Indonesia Barita Esman Dabukke tampil sebagai pembicara workshop tentang pendidikan karakter di SDS Assisi Medan. Foto: Istimewa

Guru Berkarakter

Dabukke menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai dan karakter yang ditanamkan oleh seorang Guru kepada murid-muridnya. Dia juga menyoroti bahwa menjadi seorang Guru bukanlah hanya sekadar pekerjaan profesional, tetapi juga panggilan.

Dalam konteks pendidikan di sekolah Katolik seperti SDS Assisi, menjadi seorang Guru berarti menjadi orang yang terpilih dan terpanggil untuk membentuk karakter generasi muda sesuai dengan ajaran agama. Namun, baik di sekolah Katolik maupun di sekolah lainnya, seorang Guru harus tetap menjunjung tinggi profesionalisme dalam menjalankan tugasnya.

Dabukke juga mengemukakan kriteria-kriteria yang harus dimiliki oleh seorang Guru berkarakter. Selain memiliki kompetensi profesional yang diberikan oleh pemerintah, seorang Guru juga harus memiliki kepribadian yang mantap, dewasa, arif, berwibawa, dan berakhlak mulia.

Di samping itu, kompetensi pedagogis juga sangat penting, termasuk kemampuan memahami peserta didik secara mendalam, merancang pembelajaran, dan mengembangkan potensi peserta didik.

Menurutnya, Guru berkarakter harus mampu menjadi teladan dalam setiap tindakan dan perilaku, menggambarkan esensi dari ajaran Yesus sebagai “Guru yang Baik” yang melayani dengan tulus dan penuh kasih.

Menurut Dabukke, sekolah merupakan tempat yang ideal untuk membentuk karakter. Untuk mencapai hal tersebut, sekolah harus memiliki karakter yang kuat.

“Karakter sebuah sekolah terbentuk dari karakter pimpinan, guru, dan siswa,” ujarnya. Dabukke menjelaskan tiga langkah untuk mewujudkan sekolah berkarakter.

Pertama, melakukan analisis terhadap potensi sekolah. Analisis ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode Analisis SWOT.

“Sebelum merumuskan visi dan misi sekolah, penting untuk memahami potensi yang dimiliki oleh. Hal ini akan memudahkan dalam menentukan karakter yang layak diterapkan di sekolah,” papar Dasukke.

Kedua, merumuskan visi dan misi sekolah yang berkarakter. Visi dan misi sekolah sebaiknya selaras dengan perkembangan zaman.

“Jika kita ingin menciptakan sekolah berkarakter, maka perlu untuk meninjau ulang atau merevisi visi dan misi sekolah sesuai dengan kebutuhan zaman. Selain itu, visi dan misi sekolah juga harus dihayati oleh semua stakeholders inti sekolah,” ujarnya.

Ketiga adalah merumuskan standar perilaku bagi stakeholders inti sekolah, yaitu pimpinan sekolah, guru, pegawai, dan siswa.

“Standar perilaku ini mencakup beberapa aspek, seperti kehadiran, berpakaian, komunikasi, hubungan interpersonal, dan kinerja. Selain itu, standar perilaku juga mencakup karakter pilihan sekolah, yang dapat dipilih dari 18 karakter nasional atau karakter khusus sesuai dengan kekhasan sekolah,” jelas Dasukke.

Sebagai contoh, SD Swasta Assisi memiliki core value, yaitu beriman, bersaudara, berkorban, setia, terbuka, dan menghargai. Ini adalah nilai-nilai yang menjadi landasan dalam membentuk karakter siswa di sekolah tersebut.

Sebelum mengakhiri paparan, Dabukke menyampaikan kalimat penuh makna kepada para Guru SDS Assisi: “Guru yang pintar akan mengajar. Guru yang baik akan Mendidik. Guru yang hebat akan memberi inspirasi. Guru yang terpanggil akan melayani.”

Barita Esman Dabukke mengakhiri workshop dengan mengungkapkan inspirasi, bahwa akhir dari seluruh pendidikan adalah karakter. Ucapan tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah dari para peserta workshop.

Pentingnya karakter dalam pendidikan menjadi titik focus pada acara workshop. Seperti diungkap oleh Ketua Panitia Workshop Sabar Tarihoran, “Buah dari Ilmu bukanlah Pengetahuan, akan tetapi buah dari ilmu itu adalah Tindakan.”

Peserta sepakat bahwa pendidikan sejati adalah yang mampu membentuk karakter siswa, bukan hanya memberikan pengetahuan.

Murid-murid SDS Katolik Assisi Medan. Foto: Istimewa

Tantangan Sekolah

Salah satu momen puncak dalam acara ini adalah ketika Kepala Sekolah SD Swasta Assisi Medan Sr. Cordia Tinambunan, FCJM berbagi tentang tantangan yang dihadapi oleh sekolah dan harapan untuk masa depannya.

“Kualitas Pendidikan yang dimaksud salah satunya adalah ‘karakter’,” ungkap Sr. Cordia Tinambunan FCJM dengan penuh semangat. Ia menyoroti pentingnya karakter dalam pendidikan, yang menjadi fokus utama sekolah dalam menghasilkan generasi yang berkualitas.

Sr. Cordia Tinambunan FCJM juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh sekolah, terutama dalam hal infrastruktur. “Sekolah ini perlu dibenahi dan ditata lebih baik lagi bila ingin menjadi sekolah yang berkarakter,” ujarnya dengan nada tegas.

Hal ini menggarisbawahi perlunya dukungan dari masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk membangun fasilitas yang sesuai dengan visi sekolah.

Pentingnya dukungan dari masyarakat juga tercermin dalam sambutan yang diberikan oleh para peserta workshop. Mereka tidak hanya mendukung upaya sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga bersedia untuk turut serta dalam pembangunan infrastruktur yang diperlukan.

Hal ini menunjukkan bahwa semangat untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas tidak hanya berasal dari pihak sekolah, tetapi juga dari masyarakat yang peduli terhadap masa depan generasi muda.

Sr. Cordia Tinambunan FCJM menjelaskan SD Swasta Assisi Medan adalah Sekolah Dasar Katolik di bawah naungan Yayasan Puteri Hati Kudus.

Jumlah guru dan pegawai di sekolah tersebut mencapai 48 orang. Jumlah murid dari Kelas 1 hingga Kelas 6 mencapai 1.010 siswa, dengan total ruang belajar sebanyak 26 kelas.

Sekolah ini telah berhasil meraih akreditasi tingkat A. Selama beberapa tahun terakhir, SDS Assisi Medan telah mengukir prestasi yang gemilang, baik dalam bidang olimpiade antar tingkat SD di Kota Medan maupun dalam kegiatan seni di tingkat kecamatan dan antar sekolah di bawah naungan Yayasan Puteri Hati Kudus. (*)

Kontributor Katolikana, tinggal di Paroki St. Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat Medan, Keuskupan Agung Medan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.